MAHASISWA SASTRA INDONESIA UNPAM MERAIH PENGHARGAAN PADA LOMBA PUISI TINGKAT NASIONAL – DERMAGA SENI BULELENG


Pada tanggal 28 – 30 Maret 2021, Dewan Juri yang terdiri dari Dr. Gde Artawan, M.Pd, Dewa Putu Sahadewa, dan Wayan Jengki Sunarta menggelar rapat untuk memutuskan dan menetapkan para pemenang. Namun, sebelumnya, masing-masing juri telah melakukan penilaian secara bertahap terhadap puisi-puisi yang dikirimkan panitia secara bergelombang. Kriteria penilaian yang disepakati Dewan Juri adalah kesesuaian isi puisi dengan tema (penjelajahan, pendalaman, dan penafsiran tematik) dan teknik penulisan puisi (komposisi puitik).
Pada saat melakukan penilaian, Dewan Juri hanya berhadapan dengan nomor urut dan judul puisi. Nama peserta yang tertera pada teks puisi dihapus oleh panitia setelah puisi didata. Nama peserta diungkap oleh panitia setelah Dewan Juri berhasil memutuskan dan menetapkan hasil lomba. Hal itu dilakukan semata-mata untuk memperkuat objektivitas penilaian lomba ini.


Pada saat rapat, masing-masing juri menyodorkan puisi-puisi hasil penilaiannya. Dewan Juri sepakat bahwa puisi-puisi yang meraih dua dan tiga suara langsung lolos final. Sementara itu, puisi-puisi yang hanya meraih satu suara, Dewan Juri melakukan pembacaan ulang dan mendiskusikan kembali untuk menilai kemungkinan lolos final.


Dari penilaian Dewan Juri, untuk kategori Siswa, puisi yang meraih tiga suara berjumlah 5 puisi, dua suara 18 puisi, dan satu suara 56 puisi. Untuk kategori Mahasiswa, yang meraih tiga suara sebanyak 5 puisi, dua suara 18 puisi, dan satu suara 68 puisi. Untuk puisi-puisi yang meraih satu suara, setelah melalui pembacaan ulang yang diselingi perdebatan sengit, akhirnya Dewan Juri mendapatkan sebanyak 10 puisi kategori Siswa dan 15 puisi kategori Mahasiswa yang dianggap layak lolos final.


Dari penilaian yang sangat ketat ini, Dewan Juri sepakat lebih mengejar kualitas ketimbang kuantitas, sehingga “50 Puisi Terbaik Siswa” dan “50 Puisi Terbaik Mahasiswa” tidak berhasil dicapai. Dan, sebagai gantinya Dewan Juri berhasil memutuskan dan menetapkan “33 Puisi Terbaik Siswa” dan “38 Puisi Terbaik Mahasiswa”.


Berdasarkan pembacaan terhadap puisi-puisi peserta, Dewan Juri menilai rata-rata puisi yang masuk ke meja panitia masih di bawah standar. Sebagian besar peserta terjebak pada tema yang disodorkan panitia. Penafsiran tema cenderung mentah dan harfiah. Hal ini membuat bertebaran puisi-puisi yang berisi tentang sejarah, peperangan, kepahlawanan di masa silam dengan nada bombastis dan hiperbolis.


Selain itu, bertebaran juga puisi dengan metafora dan kiasan yang cenderung klise atau basi. Sebagian besar puisi bernada seragam. Berisi petuah, nasihat, curhatan, mirip pidato atau orasi. Semestinya, tema “Kebangkitan Nasional” bisa ditafsir secara luas dan bahkan personal.


Dewan Juri juga mencatat, sebagian besar peserta kurang terlatih membangun metafora dan keutuhan puisi sehingga gagasan yang kuat menjadi kedodoran dalam larik-larik puisi yang ditulis. Selain itu, bertebaran pula puisi yang kurang atau tidak mengalami proses swasunting, sehingga tampak salah ketik di sana-sini, penggunaan tata bahasa dan ejaan yang masih berantakan.


Dari beberapa mahasiswa Universitas Pamulang yang ikut serta dalam lomba ini, Rika Oktaviani dari Prodi Sastra Indonesia berhasil menjadi salah satu pemenang dari 38 mahasiswa yang puisinya dipilih oleh para juri. Puisi dengan judul  “Bersatu Kita Bangkit”  tersebut nantinya akan dibukukan menjadi buku antologi  bersama dengan puisi dari para pemenang lomba lainnya dan akan di luncurkan dihari kebangkitan nasional. Hadiah yang berhasil didapatkan berupa uang tunai 1 juta rupiah, sertifikat nasional dan buku antologi puisi.

😃+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *