Logo

Mahasiswa Sastra Indonesia UNPAM Pentaskan Rumah Tanpa Bendera sebagai Hasil Pembelajaran Telaah Drama II

Published on: 22 Jun 2026

Berita, Kegiatan

TANGERANG SELATAN — Mahasiswa kelas 05SIDE001 Program Studi Sastra Indonesia Universitas Pamulang sukses menyelenggarakan pementasan teater berjudul Rumah Tanpa Bendera pada Sabtu, 20 Juni 2026, di Gedung A UNPAM Viktor. Pementasan ini merupakan hasil pembelajaran mata kuliah Telaah Drama II yang dibimbing oleh Welcy Fine, S.S., M.Hum.

 Acara yang dihadiri oleh lebih dari 70 penonton ini menjadi ruang apresiasi sekaligus pembuktian proses kreatif mahasiswa dalam memahami, menafsirkan, dan mementaskan karya drama. Pementasan dibuka secara langsung oleh Welcy Fine, S.S., M.Hum., selaku dosen pembimbing. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penampilan musik akustik yang membangun suasana sebelum memasuki puncak pertunjukan.

Rumah Tanpa Bendera dipentaskan oleh Teater Seruni dengan melibatkan para pemain, yaitu Sastri, Nuy, Deni, Eli, Gita, dan Bintang. Pementasan ini disutradarai oleh Viswanathan Adianto Fazah dengan pimpinan produksi Tri Utami. Di balik panggung, produksi ini juga didukung oleh tim kerja mahasiswa yang terdiri atas Distika sebagai stage manager; Tholib dan Tami sebagai koordinator lapangan; Gita P. sebagai sekretaris sekaligus bendahara; Syela, Ayu, dan Sahara sebagai penata rias dan busana; Danial dan Alfan sebagai penata musik dan lampu; Putra dan Tholib sebagai tim artistik; Via dan Intan sebagai dokumentasi dan humas; Alya dan Lala sebagai tim tiket; serta Maya, Nihla, Zahra, Vina, dan Sharifah sebagai tim dana usaha.

Pertunjukan dibuka dengan adegan demonstrasi dan orasi seorang pemuda. Adegan tersebut menghadirkan suasana kritik sosial yang kuat sejak awal pementasan. Pemuda yang menyuarakan kegelisahan itu kemudian ditemukan tewas oleh dua orang karyawati yang baru pulang kerja. Menariknya, kedua tokoh tersebut digambarkan seolah tidak lagi terkejut saat menemukan mayat, sebab peristiwa serupa telah menjadi hal yang sering terjadi.

Alur kemudian berpindah ke kehidupan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Dalam ruang keluarga tersebut, muncul percakapan mengenai kehidupan, ekonomi, kesejahteraan, dan keadilan. Pertanyaan-pertanyaan sang anak menjadi pusat ketegangan dramatik karena menuntut jawaban atas realitas sosial yang tidak mudah dijelaskan oleh orang dewasa.

Pada adegan berikutnya, ayah dan ibu saling mengungkapkan kondisi ekonomi serta tekanan pekerjaan masing-masing. Dialog ini memperlihatkan bagaimana persoalan besar negara hadir dalam ruang paling dekat, yaitu keluarga. Pementasan kemudian mencapai suasana simbolik melalui mimpi sang anak, ketika muncul sosok Marsinah dan Hana, seorang guru yang mati ditembak. Adegan tersebut diperkuat dengan pertanyaan kepada Sang Saka tentang mengapa mereka mati dan dibunuh. Jawaban kemudian berasal dari pihak militer bahwa mereka “menjaga kedaulatan bangsa” menjadi ironi yang mempertegas kritik pementasan terhadap kekuasaan, kemanusiaan, dan makna kemerdekaan.

Melalui pementasan ini, mahasiswa kelas 05SIDE001 tidak hanya berhasil menampilkan pertunjukan teater, tetapi juga menunjukkan kemampuan membaca isu sosial, membangun kerja produksi, mengelola panggung, serta menghadirkan pengalaman artistik yang reflektif. Rumah Tanpa Bendera menjadi bukti bahwa pembelajaran drama di ruang kelas dapat berkembang menjadi karya pertunjukan yang komunikatif, kritis, dan bermakna bagi penonton.

Welcy Fine

Berita Relative

  • Prodi Sastra Indonesia UNPAM Kenalkan Kudapan Nusantara kepada Mahasiswa Filipina melalui Kegiatan PKM Lintas Negara

    unitsasindo

    3 Des 2025

    Learn more
    Featured Image
  • Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Pamulang Tahun 2025

    unitsasindo

    3 Sep 2025

    Learn more
    Featured Image
  • Kolaborasi Strategis Fakultas Sastra Unpam dan FIB Unsoed untuk Nasionalisasi Riset

    UNPAM

    27 Mei 2025

    Learn more
    Featured Image
  • Olah 1.100 Artikel hingga Ditinggal Co-Promotor, Perjuangan Taat Budiono Raih Doktor UGM

    unitsasindo

    31 Jul 2026

    Learn more
    Featured Image