Unpam Gelar Dialog Akademik Nasional, Kupas Tuntas Sinergi Sastra, Tradisi Lisan, dan Seni Rupa dalam Identitas Budaya Bantu
Published on: 10 Nov 2025

Berita, Seminar
Tangerang Selatan – Fakultas Sastra Indonesia, Universitas Pamulang (Unpam) menggelar
Dialog Akademik Nasional yang mengusung tema krusial: “Sinergi Sastra, Tradisi
Lisan, dan Seni Rupa dalam Konstruksi Identitas Budaya Bantu”, (6/11/2025).
Kegiatan ilmiah ini merupakan bagian dari komitmen kampus dalam memperkuat
kajian humaniora interdisipliner di tengah tantangan globalisasi dan perubahan
budaya yang semakin cepat.

Dialog akademik ini
secara spesifik menyoroti bagaimana tiga unsur utama kebudayaan yakni ekspresi
sastra, tradisi lisan, dan seni rupa berperan sebagai medium fundamental
pembentuk identitas masyarakat Bantu. Melalui pendekatan lintas disiplin, forum
ini berupaya memetakan hubungan fungsional antara teks, narasi turun-temurun,
dan simbol visual sebagai perangkat yang menjaga kontinuitas nilai, memori
kolektif, serta karakter kultural komunitas tersebut.
Dialog Unpam
menghadirkan dua akademisi nasional sebagai narasumber utama untuk mengupas
sinergi budaya ini.
Prof. Dr. Maman
Suryaman, M.Pd, pakar sastra dan pedagogi, menjelaskan peran vital sastra dalam
pembangunan karakter dan budaya bangsa. Ia menegaskan bahwa karya sastra dan
praktik pendidikan berperan penting dalam proses internalisasi nilai etika dan
historis masyarakat.

Prof. Maman dengan
tegas menyatakan, "Sastra yang bermutu, sama dengan bangsa yang
berbudaya." Lebih lanjut, ia menggarisbawahi fungsi sentral sastra:
"Sastra merupakan jantungnya budaya, menjadi penghubung antara tradisi dan
inovasi suatu bangsa." Menurutnya, sastra tidak hanya berfungsi sebagai
karya estetik, tetapi juga sebagai media penyimpanan pengalaman, konflik
sosial, dan kebijaksanaan yang diwariskan antargenerasi. Oleh karena itu,
sastra dapat dikatakan mampu memperkuat identitas nasional.
Narasumber kedua,
Prof. Dr. Zulfi Hendri, M.Sn, menyoroti dimensi seni rupa dan estetika
tradisional. Ia memandang adanya kesamaan esensial antara dua bidang ini:
"Sastra dan seni merupakan satu rumpun atau satu napas, yang perbedaannya
terletak pada media," ujarnya.
Ia menguraikan
bagaimana motif, pola warna, dan representasi visual dalam seni Bantu
merefleksikan kosmologi dan struktur sosial masyarakatnya. Seni rupa,
menurutnya, tidak sekadar artefak, tetapi menjadi bahasa simbolik yang
menyampaikan filosofi hidup dan landasan spiritual komunitas Bantu dari masa ke
masa. Prof. Zulfi menyimpulkan, ketika media visual dan tekstual mampu
dikombinasikan secara utuh, kombinasi tersebut dapat menjembatani dan
meningkatkan kemampuan seseorang dalam memahami dan mengekspresikan budaya.
Melalui forum ilmiah
ini, Fakultas Sastra Indonesia Unpam berupaya menghasilkan dua luaran utama:
- Pemetaan komprehensif mengenai hubungan lintas disiplin antara
sastra, tradisi lisan, dan seni rupa dalam konstruksi identitas Bantu.
- Strategi konservasi dinamis yang mendorong
pelestarian budaya melalui pendekatan adaptif dan berbasis digital.
Kajian interdisipliner
ini dinilai sangat penting untuk memperkuat relevansi ilmu humaniora di tengah
perubahan sosial yang cepat. Sinergi antara ketiga unsur budaya ini adalah
fondasi utama dalam memahami bagaimana identitas budaya terbentuk dan bertahan.
Dialog ini diharapkan dapat menjadi katalis pengembangan riset dan membuka
peluang kolaborasi baru dalam upaya pelestarian budaya.
Sebagai forum ilmiah,
Unpam mengundang masyarakat akademik, peneliti, maupun umum untuk
berpartisipasi dan memperluas diskusi mengenai dinamika identitas budaya di era
global. (RED)




